Kretek dibedakan terutama oleh racikannya: tembakau dicampur dengan cengkih dan dapat dipadukan dengan saus perasa [2]. Cengkih bukan hanya aroma yang ditambahkan di bagian filter. Rujukan membedakannya dari rokok yang menempatkan perasa cengkih dalam kristal kecil di filter, sebab cengkih tidak dicampur ke tembakau [2].
DJARUM123: cengkih dan tembakau sebagai pembeda
Bunyi "keretek" ikut melekat pada nama rokok ini. Dalam kisah asal-usulnya, bunyi tersebut dikaitkan dengan cengkih yang terbakar saat rokok diisap [2]. Racikan dan bunyi itu memberi petunjuk tentang ciri kretek, tetapi bentuknya tidak hanya satu: sumber menyebut kretek tanpa filter maupun dengan filter, serta tingwe—singkatan dari ngelinting déwé, atau melinting sendiri—dan kretek klobot [2].
Dari klobot ke industri Kudus
Salah satu kisah kretek menghubungkannya dengan para Warok di Ponorogo. Kretek klobot, yang dibungkus kulit jagung, disebut telah digunakan selama ratusan tahun dan juga menjadi sesajen dalam pertunjukan Reog [2]. Riwayat ini menempatkan rokok tersebut dalam konteks kebiasaan dan tradisi setempat, bukan hanya sebagai racikan tembakau.
Narasi lain mengaitkan perkembangan kretek di Kudus dengan Haji Djamari pada sekitar akhir abad ke-19. Menurut kisah yang beredar di kalangan pekerja pabrik rokok, Djamari merajang cengkih, mencampurnya dengan tembakau, lalu melintingnya. Asal-usul dan identitas Djamari sendiri disebut masih samar, sehingga kisah itu lebih tepat dipahami sebagai salah satu narasi tentang awal kretek [2].
Perubahan bentuk ikut menjadi bagian dari sejarahnya: kretek klobot menggunakan kulit jagung, sedangkan produksi dengan lapisan kertas halus telah berlangsung sejak abad ke-19 [2]. Dalam perkembangan industri Kudus, Nitisemito memulai bisnis rokok pada 1906 dan mendaftarkan usahanya pada 1908 dengan merek Tjap Bal Tiga. Langkahnya disebut sebagai tonggak tumbuhnya industri rokok kretek di Indonesia [2].
Tradisi bukan ukuran keamanan
Latar budaya membantu menjelaskan bagaimana kretek dikenal, dibungkus, dan dikisahkan dari satu masa ke masa lain. Namun, cengkih sebagai bahan racikan tidak menjadikan produk tembakau ini tanpa risiko. Rujukan merangkum penelitian yang menunjukkan bahwa kretek mengandung lebih banyak nikotin, karbon monoksida, tar, dan sejumlah bahan kimia lain dibandingkan rokok biasa, serta menyimpulkan bahwa kretek secara umum lebih berbahaya [2].
Jadi, pembeda utama kretek terletak pada cengkih yang diracik bersama tembakau, sementara bentuk dan kisah sejarahnya memberi konteks tambahan. Memahami tradisi itu tidak perlu mengaburkan fakta bahwa kretek tetap merupakan produk tembakau.
Sumber
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Keretek. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29132272&title=Keretek (diakses 2026-10-02).